Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau sekiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (QS An Nisa [4]:82)
Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik seorang mukmin diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Muslim)
Dihadapan para sahabatnya, Rasulullah pernah menyampaikan, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seseorang dengan Al Quran, yaitu orang-orang yang mempelajarinya dan mengikutinya. Dan sesungguhnya Allah akan merendahkan derajat seseorang juga dengan Al Quran, yaitu orang-orang yang mengabaikannya dan berpaling darinya. Janganlah kalian menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain kecuali dua hal. Pertama, orang yang diberi hikmah oleh Allah sehingga ia memiliki pengetahuan tentang Al Quran. Ia mempelajarinya dengan sungguh-sungguh siang dan malam hari dan diajarkannya kepada orang lain. Kedua, seseorang yang diberi harta kekayaan oleh Allah dan ia pergunakan untuk bersedeqah siang dan malam tanpa henti. (HR Muslim)
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 September 2009
Nuzulul Qur'an
Seorang sahabat bertanya, “Bukankah permulaan Al Quran diturunkan pada malam Laitul Qadr dan bukan pada malam 17 Ramadhan yang kita peringati sebagai Nuzulul Quran?”
Hamba itu menjawab dari apa yang ia ketahui:
Bagi sebahagian ulama yang menyatakan bahwa Al Quran diturunkan pada 17 ramadhan adalah berdasar kepada sebuah ayat di dalam Al Quran:
“…Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Al furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Anfaal [8]:41)
Ayat diatas turun berkenaan dengan perang Badr yang terjadi pada 17 Ramadhan. Oleh sebahagian kecil ulama hari Al Furqan diatas diartikan sebagai hari turunnya Al Quran. Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas ulama karena Al Furqan tidak harus diartikan sebagai Al Quran. Arti kata Furqan yang sebenarnya adalah pemisah antara kebathilan dan kebenaran. Perang Badr merupakan perang terbuka pertama antara umat islam dengan kaum musyirikin Mekah yang jelas merupakan perang yang tidak seimbang dimana pengikut Rasulullah saw hanya berjumlah sekitar 300 pasukan sedangkan pihak musyirikin Mekah berjumlah lebih dari 1000 pasukan. Walaupun demikian perang ini dimenangkan dengan gilang gemilang oleh kaum muslimin karena Allah ‘Azza wa Jalla ingin membuktikan janji-Nya bahwa setiap kebathilan itu pasti akan lenyap dan kebenaran pasti akan menguasai kehidupan para hamba-Nya (QS Al Isra [17]:81). Kalimat ‘kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami’ Pada ayat diatas dapat diartikan bahwa Allah menurunkan bala bantuan berupa seribu malaikat. Hal ini dijelaskan Allah pada bahagian lain dari QS Al Anfaal.
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankannya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’” (QS Al Anfaal [8]:9)
Jadi dari dalil dan kenyataan yang ada, sangat sulit untuk menyatakan bahwa Al Quran pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadhan. Pemahaman yang selama ini sudah melekat pada benak kita dan menjadi tradisi bagi kita untuk memperingatinya.
Jadi kapankah Al Quran pertama kali diturunkan?
“Sesungguhnya Kami telah menurukannya (Al Quran) pada malam al Qadar (kemuliaan)” (QS Al Qadr [97]:1)
Allah menjelaskan pada ayat diatas bahwa permulaan QS Al Alaq (5 ayat pertama) diturunkan pada malam Qadar. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa QS Al Alaq [96] ditempatkan sebelum QS Al Qadr [97] untuk menjelaskan bahwa akhiran ‘nya’ pada kalimat ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya’ adalah merujuk pada 5 ayat pertama QS Al Alaq.
Demikian juga perintah Rasulullah saw untuk menjaga sepuluh malam terakhir dalam bulan ramadhan adalah agar kita memperoleh kemuliaan pada malam itu yang lebih baik dari 1000 bulan (QS Al Qadr [97]:3). Hal ini menjadi bukti begitu mulianya malam Qadar itu.
“Nantikanlah bagi kalian malam Qadar pada sepuluh malam terakhir ramadhan.” (HR Muslim)
Dalam sebuah riwayat lain yang besumber dari ‘Aisyah rha, Rasulullah saw pada sepuluh malam terakhir ramadhan beriktikaf di masjid dan membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sudah selayaknya bagi kita untuk meraihnya dengan menghidupkan malam-malamnya dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT
Hamba itu menjawab dari apa yang ia ketahui:
Bagi sebahagian ulama yang menyatakan bahwa Al Quran diturunkan pada 17 ramadhan adalah berdasar kepada sebuah ayat di dalam Al Quran:
“…Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Al furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Anfaal [8]:41)
Ayat diatas turun berkenaan dengan perang Badr yang terjadi pada 17 Ramadhan. Oleh sebahagian kecil ulama hari Al Furqan diatas diartikan sebagai hari turunnya Al Quran. Pendapat ini tidak didukung oleh mayoritas ulama karena Al Furqan tidak harus diartikan sebagai Al Quran. Arti kata Furqan yang sebenarnya adalah pemisah antara kebathilan dan kebenaran. Perang Badr merupakan perang terbuka pertama antara umat islam dengan kaum musyirikin Mekah yang jelas merupakan perang yang tidak seimbang dimana pengikut Rasulullah saw hanya berjumlah sekitar 300 pasukan sedangkan pihak musyirikin Mekah berjumlah lebih dari 1000 pasukan. Walaupun demikian perang ini dimenangkan dengan gilang gemilang oleh kaum muslimin karena Allah ‘Azza wa Jalla ingin membuktikan janji-Nya bahwa setiap kebathilan itu pasti akan lenyap dan kebenaran pasti akan menguasai kehidupan para hamba-Nya (QS Al Isra [17]:81). Kalimat ‘kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami’ Pada ayat diatas dapat diartikan bahwa Allah menurunkan bala bantuan berupa seribu malaikat. Hal ini dijelaskan Allah pada bahagian lain dari QS Al Anfaal.
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankannya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’” (QS Al Anfaal [8]:9)
Jadi dari dalil dan kenyataan yang ada, sangat sulit untuk menyatakan bahwa Al Quran pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadhan. Pemahaman yang selama ini sudah melekat pada benak kita dan menjadi tradisi bagi kita untuk memperingatinya.
Jadi kapankah Al Quran pertama kali diturunkan?
“Sesungguhnya Kami telah menurukannya (Al Quran) pada malam al Qadar (kemuliaan)” (QS Al Qadr [97]:1)
Allah menjelaskan pada ayat diatas bahwa permulaan QS Al Alaq (5 ayat pertama) diturunkan pada malam Qadar. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa QS Al Alaq [96] ditempatkan sebelum QS Al Qadr [97] untuk menjelaskan bahwa akhiran ‘nya’ pada kalimat ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya’ adalah merujuk pada 5 ayat pertama QS Al Alaq.
Demikian juga perintah Rasulullah saw untuk menjaga sepuluh malam terakhir dalam bulan ramadhan adalah agar kita memperoleh kemuliaan pada malam itu yang lebih baik dari 1000 bulan (QS Al Qadr [97]:3). Hal ini menjadi bukti begitu mulianya malam Qadar itu.
“Nantikanlah bagi kalian malam Qadar pada sepuluh malam terakhir ramadhan.” (HR Muslim)
Dalam sebuah riwayat lain yang besumber dari ‘Aisyah rha, Rasulullah saw pada sepuluh malam terakhir ramadhan beriktikaf di masjid dan membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sudah selayaknya bagi kita untuk meraihnya dengan menghidupkan malam-malamnya dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT
Sabtu, 13 Desember 2008
Nama Alloh
Ar Rahman, aku yang semula tiada, menjadi ada
Ar Rahiim, yang memberikan aku pendengaran, penglihatan dan hati
Al Malik sangat baik padaku
Memberi meski belum kuminta
Al Quddus memberi aku makan dan minum
As Salam, Al Mu’min, memberikan aku kehidupan
Waktu shalat adalah yang paling dinanti
Saat itulah aku bisa bertemu dengan Al Muhaimin
Bagian dari rasa syukurku pada Al Aziz
Al Jabbar yang menguasai kerajaan langit dan bumi
Aku menyedihkan hatiku bila bermaksiat pada Al Mutakabbir
Aku senang bila aku ada dalam ketaatan pada Al Khaliq
Lisan ingin selalu menyebut nama Al Bari’
Hati selalu merindukan Al Musawwir, bilakah bertemu ?
Tangan ingin bergerak sesuai kehendak Al Ghafar
Kaki ingin melangkah menuju tempat yang diridhai Al Qahhar
Mata ingin melihat apa yang dihalalkan Al Wahhab
Wahai Ar Razzaq, Al Fattah, Al ’Aliim….
Al Qabid, Al Basith, cinta yang kekal sepanjang masa
Namun cinta pada Al Khafid penuh ujian
Karena Ar Rafi’ berfirman, ”Apakah kamu mengira, kamu akan dibiarkan saja mengatakan ’Kami beriman’, sedang kamu tidak diuji lagi ?”
Al Muzillu menjanjikan hari perjumpaan
Hari disingkapnya segala isi hati dan amalan di hadapan As Sami’
Al Basir akan bangkitkanku dari kubur
Pada hari itu kesedihan dunia berlalu, di bawah naungan Al Hakam
Al ’Adl sering memberi mimpi hikmah padaku
Al Latif memberikan hidayah dengan ragam cara
Tidak ada yang lepas dari pengawasan Al Khabir
Maka kudidik hati agar ikhlas hanya untuk Al Haliim
Begitu banyak hamba yang mencintai Al Azim, Al Ghafur
Mujahidin yang senantiasa bertasbih kepada Asy Syakur
Lantas dimanakah kedudukanku di hadapan Al ‘Aliyy
Akankah Al Kabiir ingat kepadaku di hari pertemuan nanti ?
Ingin menatap wajah Al Hafiz…
Al Muqitu ada di atas Arsy
Yang Arsy Al Hasib dibawa oleh para malaikat yang mulia lagi berbakti
Senantiasa Al Jaliil ada dalam kesibukan
Menatap langit malam ciptaan Al Karim, sungguh indah
Ar Raqib mencintai keindahan
Ayat-ayat kauniyah dan kauliyah Al Mujibu indah dan menakjubkan
Al Wasi’u tidak pernah menganiaya hamba-hambanya.
Al Hakim memberi episode kehidupan kepadaku
Al Wadudu ada kalanya memberi kemudahan atau kesulitan
Tetapi firman Al Majid, “Sesudah kesulitan ada kemudahan.”
Al Basi’ selalu bersama hambanya di dunia dan di akhirat
Ketika aku mencintai Asy Syahid,
Maka aku pun akan mencintai hamba-hamba Al Haqq yang lain
Aku akan mengulurkan tangan pada manusia ciptaan Al Wakiil
Demikianlah Al Qawiyy mengajarkan tentang cinta yang sesungguhnya
Ar Rahiim, yang memberikan aku pendengaran, penglihatan dan hati
Al Malik sangat baik padaku
Memberi meski belum kuminta
Al Quddus memberi aku makan dan minum
As Salam, Al Mu’min, memberikan aku kehidupan
Waktu shalat adalah yang paling dinanti
Saat itulah aku bisa bertemu dengan Al Muhaimin
Bagian dari rasa syukurku pada Al Aziz
Al Jabbar yang menguasai kerajaan langit dan bumi
Aku menyedihkan hatiku bila bermaksiat pada Al Mutakabbir
Aku senang bila aku ada dalam ketaatan pada Al Khaliq
Lisan ingin selalu menyebut nama Al Bari’
Hati selalu merindukan Al Musawwir, bilakah bertemu ?
Tangan ingin bergerak sesuai kehendak Al Ghafar
Kaki ingin melangkah menuju tempat yang diridhai Al Qahhar
Mata ingin melihat apa yang dihalalkan Al Wahhab
Wahai Ar Razzaq, Al Fattah, Al ’Aliim….
Al Qabid, Al Basith, cinta yang kekal sepanjang masa
Namun cinta pada Al Khafid penuh ujian
Karena Ar Rafi’ berfirman, ”Apakah kamu mengira, kamu akan dibiarkan saja mengatakan ’Kami beriman’, sedang kamu tidak diuji lagi ?”
Al Muzillu menjanjikan hari perjumpaan
Hari disingkapnya segala isi hati dan amalan di hadapan As Sami’
Al Basir akan bangkitkanku dari kubur
Pada hari itu kesedihan dunia berlalu, di bawah naungan Al Hakam
Al ’Adl sering memberi mimpi hikmah padaku
Al Latif memberikan hidayah dengan ragam cara
Tidak ada yang lepas dari pengawasan Al Khabir
Maka kudidik hati agar ikhlas hanya untuk Al Haliim
Begitu banyak hamba yang mencintai Al Azim, Al Ghafur
Mujahidin yang senantiasa bertasbih kepada Asy Syakur
Lantas dimanakah kedudukanku di hadapan Al ‘Aliyy
Akankah Al Kabiir ingat kepadaku di hari pertemuan nanti ?
Ingin menatap wajah Al Hafiz…
Al Muqitu ada di atas Arsy
Yang Arsy Al Hasib dibawa oleh para malaikat yang mulia lagi berbakti
Senantiasa Al Jaliil ada dalam kesibukan
Menatap langit malam ciptaan Al Karim, sungguh indah
Ar Raqib mencintai keindahan
Ayat-ayat kauniyah dan kauliyah Al Mujibu indah dan menakjubkan
Al Wasi’u tidak pernah menganiaya hamba-hambanya.
Al Hakim memberi episode kehidupan kepadaku
Al Wadudu ada kalanya memberi kemudahan atau kesulitan
Tetapi firman Al Majid, “Sesudah kesulitan ada kemudahan.”
Al Basi’ selalu bersama hambanya di dunia dan di akhirat
Ketika aku mencintai Asy Syahid,
Maka aku pun akan mencintai hamba-hamba Al Haqq yang lain
Aku akan mengulurkan tangan pada manusia ciptaan Al Wakiil
Demikianlah Al Qawiyy mengajarkan tentang cinta yang sesungguhnya
Selasa, 09 Desember 2008
Hukum & Waktu Qurban serta Kriteria Hewan Qurban
Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan maksuh meninggalkannya bagi yang mampu. Sedangkan Imam Abu Hanifah menghukuminya wajib.
Jumhur ulama: Sesudah shalat dan khutbah Id dan berlangsung hingga 2 hari setelah hari Id
Madzahab Hanafi: Dimulai dengan datangnya waktu shalat pita dan berlangsung hingga 2 hari setelah Id.
Madzhab Syafi'i: Sesudah shalat dan khutbah Id dan berakhir hingga akhir hari tasyriq (3 hari setelah hari Id)
Jenisnya: a. Unta b. Sapi/Kerbau c. Kambing
Umurnya: a. Unta 5 tahun penuh b. Sapi/Kerbau 2 tahun penuh c. Kambing: 1 tahun penuh
Kadarnya: a. Kambing untuk 1 orang b. Unta dan Sapi untuk 7 orang
Sifatnya: Terbebas dari a. Hilang mata sebelah b. Sakit kronis c. Pincang d. Sangat kurus
.
(sumber: majalah al-Falah)
Senin, 03 November 2008
Riba dan bahayanya
Secara Bahas : “Az-ziyadah”, tambahan. Secara Urfi : “A taqdhi Am Turbi” (apakah dibayar kontan atau ditangguhkan dengan tambahan).
Secara Syari : Pertambahan akibat pertukaran jenis harta tertentu, baik karena kelebihan atau karena adanya penundaan. Macam riba :riba Fadl artinya pertukaran dua harta sejenis yang tidak sepadan baik dari sisi kualitas maupun jumlah. Bentuknya adalah Kualitas sama berbeda jumlah, Kualitas berbeda jumlah sama, dan Jumlah & kualitas berbeda. Riba Nasi'an artinya riba yang terjadi karena adanya jangka waktu dalam transaksi. bentuknya adalah Jual beli dua mata uang berbeda, Pinjam – meminjam dengan syarat ada tambahan, dan Tambahan pembayaran karena melebihi jatuh tempo (baik dalam pinjam – meminjam atau jual beli).
Secara Syari : Pertambahan akibat pertukaran jenis harta tertentu, baik karena kelebihan atau karena adanya penundaan. Macam riba :
Jumat, 05 September 2008
Adab berdo'a dari kitabullah dan tuntunan Rosulullah saw
.
.
.
.
.
.
.
Jumat, 22 Agustus 2008
Waktu dan situasi mustajab (terkabulnya do'a)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(sumber: majalah al-Falah)
Kamis, 14 Agustus 2008
Kebaikan dalam bersedekah
Kebaikan dalam bersedekah
.Pahala yang besar.
Mencegah neraka.
Memadamkan kemarahan Alloh.
Menghindarkan kematian yang buruk.
Memperoleh ampunan.
Dekat kepada Alloh, manusia dan surga.
Dicintai Alloh.
Mendapat perlindungan Alloh.
Membersihkan harta dan jiwa.
(sumber: majalah al-Falah)
.
(sumber: majalah al-Falah)
Selasa, 12 Agustus 2008
Jalan menguatkan iman kepada Alloh SWT
Dalam menguatkan iman anda harus belajar cara melemahkan dan menguatkan iman.
> Cara melemahkan iman:
Jahil(tidak berilmu) dalam berilmu
tidak mempunyai dasar dalam perbuatanya dan gampang berbuat yang mengurangi iman.
Kelalaian, berpaling dari kebenaran, dan kelengahan.
Lalai dalam mengingat Alloh dan hati dan pikirannya sibuk dengan hal-hal jasmaniyah serta lupa dengan rohaniyah.
Perbuatan maksiat dan dosa.
Ketaatan dan iman kita pada Alloh berkurang.
Memperturutkan nafsu
Nafsu adalah musuh iman.
> Jalan menguatkan iman:
Mempelajari al Qur'an.
Dengan mempelajari dan menelitinya al Qur'an akan menemukan berbagai macam ilmu dan menguatkan iman.
Mengenal asma Alloh.
Dengan menghayati asma-asma Alloh kita dapat semakin cinta dan takut dengan Nya.
Mendalami sejarah hidup Rosululloh SAW.
Kita harus mempelajari sifat-sifat dan karakter dalam al Qur'an, As sunnah dan buku-buku sejarah. Dengan belajar tersebut kita semakin taat kepada beliau dalam ucapan dan perbuatan. Ketaatan berujung pada meningkatnya iman.
Membaca sejarah orang-orang sholih terdahulu.
Jika kita membaca sejarah ummat-ummat terdahulu sehingga kita tahu akan semangat dan kekuatan beribadah mereka, kehati-hatian dalam memelihara diri, semangat menuntut ilmu dan ketinggian akhlak mereka. Semua itu sebagai inspirasi dan motivasi kita untuk menguatkan iman.
(sumber: majalah nurul)
> Cara melemahkan iman:
tidak mempunyai dasar dalam perbuatanya dan gampang berbuat yang mengurangi iman.
Lalai dalam mengingat Alloh dan hati dan pikirannya sibuk dengan hal-hal jasmaniyah serta lupa dengan rohaniyah.
Ketaatan dan iman kita pada Alloh berkurang.
Nafsu adalah musuh iman.
Dengan mempelajari dan menelitinya al Qur'an akan menemukan berbagai macam ilmu dan menguatkan iman.
Dengan menghayati asma-asma Alloh kita dapat semakin cinta dan takut dengan Nya.
Kita harus mempelajari sifat-sifat dan karakter dalam al Qur'an, As sunnah dan buku-buku sejarah. Dengan belajar tersebut kita semakin taat kepada beliau dalam ucapan dan perbuatan. Ketaatan berujung pada meningkatnya iman.
Jika kita membaca sejarah ummat-ummat terdahulu sehingga kita tahu akan semangat dan kekuatan beribadah mereka, kehati-hatian dalam memelihara diri, semangat menuntut ilmu dan ketinggian akhlak mereka. Semua itu sebagai inspirasi dan motivasi kita untuk menguatkan iman.
(sumber: majalah nurul)
Langganan:
Postingan (Atom)